Masyarakat Informasi

kids.grid.id

Tulisan ini di buat sebagai tugas mata kuliah Sistem dan Teknologi Informasi
A. Pembahasan
Konsep Masyarakat Informasi telah
menjadi landasan filosofis dan operasional bagi peradaban kontemporer.
Masyarakat informasi didefinisikan sebagai bentuk masyarakat baru yang struktur
sosialnya didasarkan pada pembuatan, distribusi, akses, dan penggunaan
informasi secara bebas (Karvalics, 2007). Kebebasan ini mendorong perkembangan
kreativitas intelektual, menjadikan informasi sebagai produk kreatif yang
kemudian menjadi sumber daya ekonomi utama (Karvalics, 2007).
Di tengah dinamika ini, orang atau bisnis yang
berhasil adalah yang menguasai dan mengendalikan informasi (Fenner, 2002).
Tujuan utama setiap orang dalam masyarakat informasi adalah mendapatkan
keuntungan kompetitif melalui penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi
(TIK), di mana informasi tidak hanya dapat didistribusikan lebih cepat, tetapi
juga dapat dikumpulkan, disimpan, diarsipkan, dan diakses kapanpun dan di
manapun (Gudauskas, 2011). Oleh karena itu, bagi individu, organisasi, dan
negara, partisipasi penuh dalam masyarakat ini memerlukan pemahaman mendalam
tentang komponen, tantangan, dan kompetensi literasi digital yang diperlukan.
I. Fondasi Konseptual: Informasi sebagai Aset
Strategis
Dalam Masyarakat Informasi, informasi adalah
pilar fundamental. Informasi adalah data yang berarti dan berguna (O’Brien dan
Marakas, 2008; Loose, 1997), yang dihasilkan melalui proses tertentu (Loose,
1997) dan disampaikan kepada pengguna tertentu (O’Brien dan Marakas,
2008) melalui proses memberi tahu (Machlup, 1980). Sebaliknya, Data adalah
material fakta, seperti huruf, nomor, simbol, bentuk, warna, suhu, suara, dan
lain sebagainya (O’Brien dan Marakas, 2008).
A. Nilai Ekonomi Informasi
Informasi diakui sebagai kunci sumber daya
ekonomi dan merupakan salah satu aset penting perusahaan yang sangat berharga
(Moody dan Walsh, 1999; Drucker, 1992; dan Huang dkk., 1999). Kualitas data dan
informasi sangat mempengaruhi pengambilan keputusan dan operasi yang efektif
(Price & Shanks, 2005). Perusahaan yang sukses harus dapat mengubah sumber
daya data menjadi informasi atau pengetahuan dan memanfaatkannya untuk
menyelesaikan masalah bisnis (Rainer dan Cegielski, 2011).
B. Sumber Daya Manusia Pengetahuan
Sebagian besar pengguna akhir (end users)
dalam bisnis adalah pekerja pengetahuan (knowledge workers).
Pekerja pengetahuan adalah orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya
untuk berkomunikasi dan berkolaborasi dalam tim, serta menciptakan,
menggunakan, dan mendistribusikan informasi. Di Amerika Serikat, diperkirakan
37 persen tenaga kerja terdiri dari pekerja pengetahuan dan informasi (U.S.
Department of Commerce, 2012).
II. Jantung Konvergensi: Teknologi Informasi
dan Komunikasi (TIK)
Masyarakat informasi beroperasi menggunakan
infrastruktur TIK yang masif. Teknologi Informasi (TI) adalah
istilah umum yang mendeskripsikan teknologi apa pun yang membantu menghasilkan,
memanipulasi, menyimpan, mengomunikasikan, dan/atau menyebarkan informasi.
A. Konvergensi dan Cyberspace
TIK adalah hasil dari konvergensi teknologi telekomunikasi
atau komunikasi dan komputer (Bouwman dkk., 2005; International
Telecommunication Union, 2002). Konvergensi ini memungkinkan setiap individu
pengguna komputer untuk saling terhubung dan berbagi sumber daya Sistem
Informasi (Turban dkk., 2006).
Dunia yang diciptakan oleh konvergensi ini
adalah Cyberspace di dunia maya yang dibentuk oleh komputer dan
telekomunikasi (Williams & Sawyer, 2010). Cyberspace merujuk
tidak hanya pada dunia online dan Internet pada khususnya,
tetapi juga keseluruhan dunia komunikasi kabel dan nirkabel secara umum.
Internet disebut sebagai "induk dari semua jaringan" (the mother
of all networks) adalah jaringan komputer di seluruh dunia yang
menghubungkan ratusan ribu jaringan yang lebih kecil (Williams & Sawyer,
2010).
B. Peran Jaringan dan Kolaborasi Digital
Jaringan digital yang mendukung TIK telah menciptakan perubahan dramatis:
1. Dampak Ekonomi: TIK mengubah biaya relatif modal dan biaya informasi. Ketika biaya TIK menurun, teknologi ini menggantikan tenaga kerja (terutama manajer menengah dan pekerja klerikal), menghasilkan organisasi yang lebih datar dan proses bisnis yang lebih sederhana.
2. Web 2.0: Era ini ditandai
oleh pergerakan menuju World Wide Web yang lebih sosial, kolaboratif,
interaktif, dan responsif (Williams & Sawyer, 2011). Fitur-fitur Web
2.0 seperti wikis, blogs, dan situs jejaring
sosial yang memungkinkan pengguna untuk lebih memanfaatkan kecerdasan
kolektif (collective intelligence). Misalnya, Wiki, yang
diambil dari bahasa Hawaii untuk "cepat," adalah perangkat lunak
sederhana yang memungkinkan siapa saja membuat dan mengedit situs web.
3. Multimedia: TIK mendukung
penggunaan multimedia, yaitu teknologi yang menyajikan informasi dalam banyak
medium (teks, gambar, gambar bergerak, dan suara) (Williams & Sawyer,
2010).
III. Warga Masyarakat Informasi: Literasi dan Kompetensi Kunci
Untuk memanfaatkan peluang TIK dan menjadi
bagian masyarakat informasi, setiap orang harus berupaya keluar dari buta
informasi dan menjadi melek serta cerdas informasi
dan TIK.
A. Jenis-Jenis Literasi
1. Melek Komputer (Computer
Literacy): Melek komputer berarti mengetahui apa yang bisa dan tidak
bisa dilakukan oleh komputer, bagaimana komputer memberikan keuntungan atau
kerugian, serta mengetahui kapan masalah komputer dapat diselesaikan sendiri
dan kapan harus meminta bantuan (computer savvy) (Williams & Sawyer,
2010).
2. Melek TIK (ICT Literacy):
Ini adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan teknologi informasi dan
komunikasi yang diperlukan oleh kebanyakan pengguna (Acevedo, 2005).
Pengembangan sumber daya manusia di bidang TIK sangat penting, termasuk
menjadikan setiap orang memiliki keahlian dasar sehingga dapat menggunakan TIK
dalam keseharian hidup mereka.
3. Melek Informasi (Information
Literacy): Kemampuan seseorang untuk mengetahui informasi yang
diperlukannya, serta mengakses, menemukan, dan memprosesnya untuk membuat nilai
dengan TIK (Árpád, 2007; Andretta, 2005). Keahlian ini mencakup level penentuan
tugas, strategi menemukan informasi, menggunakan informasi, sintesis, dan
evaluasi (Eisenberg & Berkowitz, 1990).
4. Literasi Digital (Digital Literacy):
Konsep yang lebih luas yang mencakup kemampuan membuat berbagai jenis konten,
membagikan dan menggunakan kembali informasi, berjejaring sosial,
transliterasi (mampu menggunakan beragam platform dan
perangkat yang berbeda), menyiarkan sendiri ide dan
konten, memilih konten (menggunakan mesin pencari), memelihara
privasi, dan mengelola identitas yang sesuai di berbagai
platform (Wheeler, 2012).
B. Generasi Digital
Generasi yang tumbuh besar dengan teknologi
ini, seperti Generasi Milenial (atau Pribumi Digital),
dicirikan sebagai pembelajar intuitif, berorientasi multimedia, sangat sosial,
dan multitask. Mereka selalu daring (online),
yaitu terhubung ke jaringan untuk mengakses informasi dan layanan.
IV. Tantangan Sosial dan Upaya Pembangunan
Penggunaan TIK yang meluas, meskipun membawa
manfaat besar, juga menimbulkan masalah sosial dan ekonomi yang perlu
ditangani.
A. Kesenjangan Digital (Digital Divide)
Salah satu masalah sosial paling mendesak
adalah kesenjangan digital. Kesenjangan digital merujuk pada
kesenjangan lebar antara mereka yang memiliki akses ke TIK dan yang tidak.
Kesenjangan ini ada baik di dalam maupun di antara negara-negara.
Jika kesenjangan ini tidak diperbaiki, hal itu
dapat menyebabkan masyarakat terbagi menjadi kelompok yang melek
komputer dan terampil (information haves) dan kelompok
yang buta komputer dan tidak terampil (information
have-nots) (Laudon, 2011). TIK dipandang sebagai alat pembangunan ekonomi
dan sosial, serta jembatan antara negara maju dan berkembang untuk membebaskan
diri dari tirani geografi (International Telecommunication
Union, 2002). Fasilitas seperti telecenter yaitu tempat atau fasilitas
berbagi yang menyediakan layanan informasi dan komunikasi berbasis TIK yang berperan
penting untuk mengatasi kesenjangan ini di wilayah pelosok.
B. Pembangunan Kapasitas dan Peran Relawan
Langkah pembangunan masyarakat informasi
dilakukan melalui tiga tahap utama: penyediaan akses TIK, pembangunan basis
relawan TIK, dan pembangunan kapasitas.
Relawan TIK memainkan peran krusial dalam pembangunan kapasitas.
Mereka adalah individu atau satuan reaksi cepat yang dibentuk melalui proses
edukasi, yang bekerja membangun masyarakat informasi secara kolaboratif dan
sukarela (Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, 2011).
Proses pembangunan kapasitas yang dilaksanakan
relawan TIK meliputi (Acevedo, 2005):
1. Peningkatan Kesadaran: Memahami
kebutuhan masyarakat dan membangun kesadaran akan peluang penggunaan teknologi.
2. Pemberian Keahlian Dasar TIK:
Membangun keahlian untuk penggunaan umum komputer, mulai dari pembuatan konten
hingga menggunakan email dari web.
3. Penciptaan Kapasitas: Dilakukan
melalui pengawasan dan pendampingan periodik untuk memperluas kemampuan setiap
individu pengguna.
B. Kesimpulan
Masyarakat Informasi adalah sebuah realitas
sosial-ekonomi yang didorong oleh TIK dan berpusat pada informasi sebagai aset
strategis. Tujuan utamanya adalah mencapai keuntungan kompetitif melalui akses,
pembuatan, distribusi, dan penggunaan informasi secara bebas. Namun,
keberhasilan partisipasi membutuhkan lebih dari sekadar teknologi; ia
menuntut literasi digital, TIK, dan informasi yang
komprehensif dari setiap warganya, yang memungkinkan individu untuk
berinteraksi, berkolaborasi (melalui konsep Web 2.0), dan memproses data
menjadi nilai yang bermakna. Mengingat ancaman kesenjangan digital, upaya
terstruktur seperti yang dilakukan oleh Relawan TIK melalui pembangunan
kapasitas dan penyediaan akses yang sangat diperlukan untuk memastikan bahwa
masyarakat informasi memberikan manfaat sosial dan ekonomi secara adil, serta
mencegah terciptanya jurang pemisah yang permanen antara yang memiliki dan yang
tidak memiliki informasi.
DAFTAR PUSTAKA
Acevedo, M. (2005). Volunteering in
the information society.
Andretta, S. (2005). Information
literacy: a practitioner’s guide. Chandos Publishing, Oxford.
Árpád, P. H. (2007). Digital Culture –
Digitalised culture and culture created on a digital platform.
Bouwman H., Hooff B., Wijngaert L., & Dijk
J. (2005). Information & Communication Technology inn Organizations.
SAGE publications.
Cahyana, R. (2020). 01 Masyarakat
Informasi (Slide Presentasi).
Eisenberg, M., & Berkowitz, L.
(1990). Information problem-solving. New Jersey: Ablex.
Fenner, A. (2002). Placing Value of
Information. Library Philosofy and Practice, 4(2).
Gudauskas R. (2011). National information
policy, information infrastructure and libraries.
Huang, H., Lee, Y. W., & Wang, R. Y.
(1999). Quality Information and Knowladge. Prentice Hall PTR.
International Telecommunication Union.
(2002). Element and principles on th information society.
Karvalics L. Z. (2007). Information
Society – what is it excactly? (the meaning, history and conceptual framework
of an expression).
Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik
Indonesia. (2011). Relawan TIK Indonesia: bersama membangun masyarakat
Indonesia informatif.
Laudon, K. C. (2011). Management
Information System: Managing the Digital Firm. Pearson Education, Inc.
Loose R. M. (1997). A Dicipline Independent
Definition of Information. Jurnal of the American Society for
Information System, 48(3).
Machlup, F. (1980). The Production and
Distribution of Knowledge in the United States.
O’Brien, J. A., & Marakas, G. M. (2005). Management
Information System (8th ed.). McGraw Hill.
O’Brien, J. A., & Marakas, G. M.
(2008). Introduction to Information System.
Rainer R., K., & Cegielski C., G.
(2011). Introduction to Information Systems. John Wiley & Sons,
Inc.
Turban E., McLean E., & Wetherbe J.
(2006). Information Technology for Management: Transforming
Organization in the Digital Economy (5th ed.). John Wiley & Sons,
Inc.
Williams, B. K., & Sawyer, S. C. (2011). Using information technology: a practical introduction to computers & communications (9th ed.). McGraw-Hill.
Komentar
Posting Komentar